Seperti Bintang - Bintang di Langit

Gerbang utama kediaman yang berbahan kayu, diapit oleh dua jendela yang terbuka, terdengar suara kereta yang dibawa oleh angin, pertanda ada seseorang yang telah tiba. Di dalam gerbang tersebut terdapat sebuah ikatan kekeluargaan, yang jauh dari kata mewah, penuh dengan kasih sayang, saling menjaga satu sama lain, saling peduli, dan tiada hari tanpa komunikasi. Tetapi semua itu hilang, saat aku meninggalkan tempat yang memiliki daya tarik magnet sekuat iman tanpa noda zina, sehingga rasanya...sulit untuk ditinggalkan. Tetapi, harus ku lakukan agar mereka tidak kecewa.

Di dalam perjalanan, teringat senyuman di wajah mereka. Beberapa detik melihat langit malam yang ditaburi bintang, teringat lagi akan sujud mereka di atas sebuah kain dengan corak, sambil berdoa untuk seorang pejuang yang tak kenal lelah. Setelah beberapa detik melihat ke langit, pandangan teralihakan oleh sebuah tanda berhenti yang bersinar. Semenit kemudian, lampu itu berganti warna...menandakan perjalananku harus ku lanjutkan, dan sampailah aku di sebuah tempat yang dapat memenuhi kebutuhanku, yaitu sebuah tempat yang memiliki jaringan nirkabel, dengan alat penyejuk ruangan yang tak pernah berhenti berputar.

Setelah aku masuk, aku melihat foto yang ia tempel di atas gabus, yang mengingatkanku akan mereka. Aku berpendapat di dalam hati, bahwa foto itulah yang mebuat dia mampu menjalani kesehariannya dengan semangat. Belum lama melihat fotonya, akupun diajak memainkan sebuah permainan yang sudah sering aku mainkan. Yaitu permainan mengejar bola dan membuatnya masuk ke jaring lawan...sehingga timbullah skor. Dia tidak akan menghentikan permainannya sebelum dia menang. Akupun mengalah....dan aku berharap mimpinya menjadi indah malam ini atas kemenangan melawanku malam ini. Aku mengeluarkan layar lipat yang aku bawa dari rumah, dan mulai berselancar dengan jaringan nirkabel yang dia sediakan. Memanfaatkan momentum yang ada, kembali aku mengingat tugas yang harus diselesaikan dalam waktu dekat ini. Tapi aku tak tahu mengapa....jari ini terasa berat untuk digerakkan dan mata ini terasa sulit untuk dibuka setelah aku bermain bersama dia, dan di benakku selalu muncul perkataan "masih ada waktu".

Seketika pandangan menjadi gelap, setelah saya buka dan melihat jam, ternyata sudah larut. Aku harus segera pulang. Sesampainya di tempat awal saya, ingin rasanya akumelanjutkan mimpiku kembali, walaupun di benakku melayang tugas-tugas yang harus aku selesaikan. Tetapi perut berdering menandakan aku harus makan. Akupun membuka dompet dan seketika air mataku menetes, melihat foto adikku yang sekarang sudah kelas tiga SMP. Aku teringat kembali, masa-masa dimana aku selalu menegurnya, masa-masa dimana aku selalu mengajaknya pergi sholat, masa-masa dimana dia selalu mengitu langkahku dimanapun aku pergi. Lalu benakku mulai berkata, "jika dia tahu keadaanmu yang sekarang lagi malas-malasan, apakah dia mau mengikuti langkahmu, apakah dia mau menceritakan kakaknya yang sekarang kepada teman-temannya dengan penuh rasa bangga, dan apakah dia mau mengingatmu?". Seketika hatiku bergetar mendengar perkataan benakku itu. Aku teringat dengan foto yang dia tempel di atas gabusnya. Yaitu anggota keluarga mereka.

Seketika akupun bergegas ke dapur, memakan makanan yang ada, dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang mahasiswa kampus ternama. Beberapa jam terbuang hanya untuk menyelesaikannya. Setelah selesai aku melihat foto adikku kembali dan berkata "aku akan mebuatmu bangga memiliki kakak sepertiku!". Mengingat kembali bintang-bintang yang bertaburan di langit malam itu, membuatku berfikir akan kehadirannya disampingku yang mungkin sekarang sedang ia mimpikan. Setidaknya di dalam kediamanku sekarang, aku memiliki ikatan keluarga, yang masih mau memberikan perhatiannya kepadaku sebagai perantau. Perhatian sudah cukup aku dapatkan, terus mengapa aku harus bermalas-malasan?

Ingin rasanya bercerita lebih lanjut, tetapi suara merdu panggilan dari Sang Pencipta telah dikumandangkan...#janganlupatinggalkankomentar



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kalau "Kring" Diangkat

/po.sé.sif/

Tak Gentar!